JARINGAN PENDIDIK INDONESIA
Membangun peradaban baru dalam dunia pendidikan
Senin, 24 Maret 2014
DOWNLOAD BUKU KURIKULUM SD
Media Pendidikan: Buku SD Kurikulum 2013 Download untuk Guru: Silahkan anda bisa mendownload buku pelajaran SD sesuai kurikulum 2013 untuk guru, silahkan klik pada tulisan unduh dibawah ini : untuk le...
Sabtu, 22 Maret 2014
Makalah Teori Belajar Edward Cache Tolman
TEORI
BELAJAR
( EDWARD
CHACE TOLMAN )
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Guru dalam menjalankan
perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pengajar serta pelatih bagi peserta
didiknya, tentunya dituntut untuk memahami karakteristik psikologis yang
dimiliki oleh masing-masing peserta didiknya. Dengan kata lain, guru seharusnya memiliki ilmu yang merupakan
dasar pengetahuan yang membekali profesinya, agar
mampu mengembangkan serta menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran, sehingga
guru dapat merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran dan mengevaluasi
hasil dari proses pembelajaran tersebut.
Pendidikan memang
tidak bisa dilepaskan dari psikologi, sumbangsih psikologi terhadap pendidikan
sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti
Pengembangan Kurikulum, Proses Belajar Mengajar, dan Sistem Evaluasi, serta
layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam
pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
2. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud
dengan purposive behaviorisme?
b. Bagaimana konsep teori
belajar Edward Chace Tolman?
c. Apa kontribusi Tolman
terhadap teori belajar ?
3. Tujuan Penulisan
Selain untuk memenuhi
tugas mata kuliah psikologi pendidikan, makalah ini kami buat untuk menambah
wawasan dan pengetahuan kita semua tentang teori belajar Edward Chace Tolman.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Purposive
Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme
adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari hasil pengalaman
Behaviorisme merupakan
salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang
individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek
mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat,
minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata
melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang
dikuasai individu. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori
belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya
perubahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau
mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional,
behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh
faktor-faktor lingkungan.
Dalam arti teori belajar
yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai
makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan
pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep
”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah:
a. Mementingkan faktor
lingkungan
b. Menekankan pada faktor
bagian
c. Menekankan
pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
d. Bersifat mekanis
e. Mementingkan masa lalu
f. Mengutamakan unsur-unsur
dan bagian kecil
g. Mementingkan pembentukan
reaksi atau respon
h. Menekankan pentingnya
latihan
i. Mementingkan mekanisme
hasil belajar
j. Mementingkan peranan
kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang
diinginkan.
Pada teori belajar ini
sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan
oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini
berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan
tingkah laku adalah hasil belajar.
Teori Tolman dikenal
sebagai purposive behaviorism karena mencoba untuk menjelaskan goal (tujuan)
mengarah pada perilaku atau purposive behavior. (Tolman menggunakan
istilah purposive semata-mata untuk pendiskripsikan). Ia terkenal
dengan contoh mencari perilaku sampai makanan ditemukan. Oleh karena itu,
nampak "as if (seolah-olah)" perilakunya adalah
goal-directed atau purposive. Dalam hal ini ada persamaan antara Guthrie dan
Tolman. Menurut Guthrie perilaku tetap berlaku sepanjang pemeliharaan stimuli
disajikan oleh beberapa status kebutuhan (need). Sedangkan menurut
Tolman perilaku "as if" merupakan goal diarahkan sepanjang
organisma sedang mencari-cari sesuatu yang ada di
lingkungannya.
2. Konsep Teori
Belajar
Tolman memperkenalkan
penggunaan variable campuran dalam riset psikologis, asumsi-asumsi umum yang
dikemukakan Tolman dalam proses belajar:
a. Apa arti belajar?
Secara pragmatis,
teori belajar dapat dipahami sebagai prinspip umum atau kumpulan prinsip yang
saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan
yang berkaitan dengan peristiwa belajar.
Menurut Tolman,
belajar adalah mengenal tentang situasi. Organisme belajar tentang sesuatu yang
ada di sekitarnya, jika ia berbalik ke kiri, ia akan menemukan sesuatu. Jika ia
berbalik ke kanan, ia temukan juga sesuatu yang lain. Hal ini terjadi secara
berangsur-angsur, sehingga ia dapat membuat kesimpulan sendiri. Dengan
demikian, menurut Tolman, belajar itu akan sia-sia jika hanya dihafal.
b. Konfirmasi versus Penguatan
Sebagaimana Guthrie,
konsep penguatan (reinforcement) adalah tidak penting bagi Tolman
sebagai variable pembelajaran. Akan tetapi, Tolman mengatakan sebagai
konfirmasi, di mana behavioris menyebutnya Rinforcement.
Selama perkembangan sebuah peta kognitif,
harapan atau dugaan-dugaan dimanfaatkan oleh sebuah organisme. Dugaan adalah
sebuah firasat tentang sesuatu dan fungsinya. Di mana awal sebuah dugaan
bersifat sementara yang disebut hipotesis, yang berasal baik dari pengalaman
maupun bukan. Hipotesis yang telah dikonfirmasikan akan dipakai. Sedangkan
hipotesis yang salah akan dibuang. Yang harus diperhatikan adalah proses
penerimaan maupun penolakan hipotesis merupakan sebuah proses kognitif bukan
termasuk tindakan behavior.
c. Vicarious Trial and
Error
Tolman memperhatikan
karakteristik tikus dalam kebingungan (jalan simpag siur). Ia bisa
memanfaatkannya sebagai pendukung untuk menafsirkan teori belajarnya. Seekor
tikus sering berhenti pada suatu titik tertentu dan memandang sekelilingnya
seolah-olah berpikir tentang berbagai alternatif yang ada. Kegiatan seperti ini
(berhenti dan memandang sekelilingnya) yang disebut Tolman sebagai Vicarious
Trial and Error, sehingga organisme itu bisa membuat kesimpulan
sendiri dari berbagai kegiatan yang telah dilakukannya.
d. Belajar versus Performa
Menurut Tolman,
individu mengetahui banyak hal tentang lingkungan di sekitarnya, akan tetapi,
individu hanya akan melaksanakan informasi atau pengetahuan itu ketika melakukannya. Dalam status kebutuhan (need),
organisme memanfaatkan apa yang telah dipelajarinya hingga sampai pada real
testing yang bisa menguangi kebutuhan itu. Misalnya, ada dua kran air
dalam rumah kita, dalam jangka waktu yang lama, kita tidak pernah memperhatikan
atau meminumnya hingga suatu saat terasa sangat haus. Secara spontan kita akan
meminumnya salah satu dari keduanya. Dari sini, kita akan mengetahui bagaimana
menemukan air minum itu tanpa harus menunggu hingga terasa haus.
Beberapa point sejauh
ini yang dapat diringkas adalah:
1) Organisme membawa
kepada bentuk problem-solving berbagai hipotesis, yang bisa
jadi akan memanfaatkan percobaan untuk memecahkan masalah ini. Hipotesis ini
sebagian besar didasarkan pada pengalaman terdahulu. Tolman juga percaya bahwa
beberapa strategi problem-solving bisa jadi merupakan pembawaan.
2) Hipotesis yang survive,
yaitu yang sesuai dengan kenyataan menjadikan maksud atau tujuan tercapai.
3) Ketika ada berbagai
tuntutan maupun alasan yang harus dipenuhi, sebuah organisme akan memanfaatkan
penggunaan informasi yang ada dalam peta kognitifnya. Hal inilah yang menjadi
dasar perbedaan learning dan performance.
e. Belajar Laten
Belajar laten (latent
lerning ) adalah belajar yang tidak di terjemahkan ke dalam performa atau
kinerja. Dengan kata lain, adalah mungkin hasil belajar akan tetap disimpan
dalam jangka waktu yang lama sebelum ia dimunculkan dalam bentuk prilaku.
Konsep belajar laten sangat penting bagi Tolman, dan dia menganggap dirinya
telah berhasil menunjukan eksistensinya.
Tolman lebih dikenal
dengan istilah latent learning yakni belajar yang tidak
diwujudkan dalam performance. Dengan kata lain, latent
learning merupakan kemungkinan belajar yang terbengkalai dalam waktu
yang amat panjang sebelum hal tersebut dinyatakan dalam prilaku. Konsep
tentang latent learning sangat penting bagi Tolman, dan dia
merasa sukses dalam mendemonstrasikan eksistensinya. Eksperimen terkenal yang
dilakukan oleh Tolman dan Honzik (1930) melibatkan tiga kelompok tikus, yang
mencoba belajar untuk memecahkan suatu kebingungan (jaringan jalan yang simpang
siur). Kelompok pertama, tidak pernah diperkuat untuk dengan tepat melintasi
jalan yang simpang siur itu. Kelompok kedua, selalu diperkuat (reinforced).
Sedang kelompok ketiga, tidaklah diperkuat sampai hari ke-11 mengadakan
percobaan. Kelompok terakhir inilah yang menarik bagi Tolman. Teorinya
tentang latent learningmeramalkan bahwa kelompok ini akan belajar
di simpang siur jalan itu, sama halnya dengan kelompok yang secara teratur
diperkuat. Dan ketika penguatan (reinforcement) diperkenalkan pada hari
ke-11, kelompok ini akan melakukan seperti halnya kelompok yang secara terus
menerus diperkuat (reinforced).
f. Belajar Ruang
versus Belajar Respon
Tolman berpendapat
bahwa hewan belajar sesuatu itu berada, sedangkan teoritisi S-R berpendapat
bahwa hewan mempelajari respons spesifik dan stimulasi spesifik. Tolman dan
rekannya melakukan serangkaian percobaan yang di rancang unuk mengetahui apakah
hewan adalah pembelajar ruang, seperti dikatakan Tolman, ataukah pembelajar
respons,seperti dikatakan teoritisi S-R. Percobaan ini dilakukan oleh Tolman.
Ritchie, dan Kalish.
g. Ekspektasi Penguatan
Menurut Tolman, ketika
kita belajar, kita menganalisa "situasi". Term understanding selalu
ada hubungannya dengan Tolman sebagaimana para behavioris. Dalam situasi problem-solving,kita
belajar untuk memperoleh cara yang paling paktis. Kita belajar untuk
mengharapkan terjadinya persitiwa tertentu, mengikuti peristiwa yang lain.
Seekor binatang mengharapkan jika ia pergi ke suatu tempat tertentu, maka ia
akan menemukan reinforcer tertentu. Manurut pada ahli teori
S-R, bahwa merubah reinforcer dalam teori belajar tidak akan
mengganggu prilaku sepanjang kuantitas reinforcement tidak
dirubah secara drastis. Sedangkan menurut Tolman, ia memprediksikan, jika reinforcer dirubah,
prilaku akan terganggu, karena reinforcement expectancy merupakan
bagian dari apa yang diharapkan.
4. Kontribusi Tolman
Terhadap Teori Belajar
Ketika kita mencari
kontribusi Tolman terhadap teori belajar maka akan kita dapatkan penemuan
tunggalnya tentang latent learning. Kontribusi terbesar Tolman tak sebanyak
dalam penemuan penelitian yang spesifik dan lebih memerankan tugasnya melawan
behavioris Hull. Dimana Hull dan teman-temannya mampu menolak pendapat
psikologi Gestalt dan Piaget, yang terjadi perbedaan keduanya pada metodologi
dan subyek bersifat eksperimen.
Tolman merupakan
penengah bagi para behavioris S-R dengan para psikolog yang memandang belajar
sebagai proses kognitif
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Implikasi
perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. Guru dapat
menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori purposive
behaviorism dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan
belajar, karakteristik siswa, dan sebagainya. Aplikasi
teori purposive behaviorism dalam kegiatan pembelajaran tergantung
dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran,
karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
2. Saran
Pengertian,
prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para
pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan
pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori
belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan yang
berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan output-output
yang berkualitas yang mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaplin, J. P. 2006.
Terjemahan: KamusLengkapPsikologi.
Jakarta: PT Raja GrafindoPersada.
Hergenhahn, B. R.,
& Olson, Matthew. H. 2009. An
Introduction to Theories of Learning. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Passer, M. W., R. E.
Smith. 2007. Psychology, The Science of
Mind and Behavior, Third Edition. New York: McGraw Hill International
Edition.
Alwisol. 2010. Psikologi
Kepribadian. Malang: UMM Press.
Corey Gerard.
2009. Teori dan Praktek: Konseling dan Psikoterapi. Bandung:
PTRefika Aditama.
Hall C.S, and Lindzey
Gardner. 1993. Teori-Teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta:
Kanisius.
Payne Malcom. 2005. Modern
Social Work Theory 3r Edition. New
York: Palgrave Macmillan.
Semiun Yustinus.
2006. Kesehatan Mental 3. (Yogyakarta: Kanisius.
Wade Carol, Tavris Carol.
2007. Psikologi Jilid II . Jakarta: Erlangga.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillah segala puji bagi Allah yang menggenggam
segala peristiwa baik besar maupun kecil. Seluruh syukur tercurah kepada-Nya
yang telah memberikan limpahan rahmat, karunia dan kesempatan-Nya, suatu
kebahagiaan yang tak terhingga bagi kami di saat makalah ini terselesaikan. Penulisan makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan semua pihak sehubungan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1.
Ibu Dr. Wahyu Sukartiningsih, M.Pd,
telah memberi kesempatan kepada penulis untuk membuat makalah ini.
2.
Semua Dosen
Pascasarjana Unesa yang telah banyak memberikan pengarahan, nasehat,
dorongan serta bimbingan.
3.
Rekan-rekan Mahasiswa Pasca Srajana
Unesa, yang telah
memberikan bantuan, dorongan dan kemudahan yang sangat berati selama penulis menyususn
makalah ini hingga selesai.
Akhir kata penulis panjatka doa semoga Allah SWT selalu
melimpahkan rahmat dan memberikan balasan yang setimpal kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada
penulis. Amin Ya Robbal Alamin.
Surabaya, Februari
2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar …………………………………………………………. i
Daftar
Isi ………………………………………………………………… ii
BAB
I. PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang Masalah …………………………………………… 1
2. Rumusan
Masalah …………………………………………………… 1
3. Tujuan
Penulisan …………………………………………………… 1
BAB
II. PEMBAHASAN
1. Purvosive Behaviorisme ..................................................................... 2
2.
Konsep
Teori belajar .......................................................................... 3
3.
Kontribusi
Tolman Terhadap Teori Belajar .................................... 7
BAB
III. PENUTUP
1.
Kesimpulan …………………………………………………………. 8
2.
Saran ……………………………………………………………….. 8
Daftar
Pustaka ………………………………………………………….. 9
MAKALAH
TEORI
BELAJAR EDWARD CHACE TOLMAN
Tugas
Individu Mata Kuliah Teori Belajar
Dosen
Dr. Wahyu Sukartininsih, M.Pd
SAEFULLAH
NIM 137855445
Kelas
( C )
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCASARJANA
2014
Langganan:
Postingan (Atom)